BAB I
PEMBUKAAN
1. PENGERTIAN TAFSIR
Tafsir menurut bahasa adalah penjelasan atau keterangan, seperti yang bisa dipahami dari Quran S. Al-Furqan: 33. ucapan yang telah ditafsirkan berarti ucapan yang tegas dan jelas. Menurut istilah, pengertian tafsir adalah ilmu yang mempelajari kandungan kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW., berikut penjelasan maknanya serta hikmah-hikmahnya.
Sebagian ahli tafsir mengemukakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang al-Quran dari segi pengertiannya terhadap maksud Allah sesuai dengan kemampuan manusia. Secara lebih sederhana, tafsir dinyatakan sebagai penjelasan sesuatu yang diinginkan oleh kata.
2. PENGERTIAN SURAT AL-IKHLAS.
Al-ikhlas bermakna bersih dan tulus, termasuk golongan surah-surah makiyyah. Terdapat 4 ayat 15 kalimat dan 47 huruf. Tersebut di dalam hadis bahawa Nabi saw. bersabda:"Demi Allah yang jiwaku di tangan Nya sesungguhnya qul huwallahu ahad (surah al-ikhlas) itu menyamai sepertiga Al-Quran".
Di dalam surah ini Allah menerangkan sifat-sifat Allah. Surah ini mengandungi masalah tentang tauhid, dalam surah ini menegaskan tentang kemurnian ke esaan Allah dan menolak segala macam kemusyrikan dan menerangkan bahawa tiada suatu yang dapat manyamai Allah sama ada pada sifat Nya, perbuatan Nya dan hukum hakam Nya. dalam surah ini juga Allah menerangkan bahawa semua makhluk berkehendak dan bergantung harap kepada
Makalah berikut ini mengutarakan tentang hal yang berkaitan dengan fadhilah atau keutamaan surat al Ikhlas. Di antara keutamaan surat al Ikhlas adalah kecintaan kepada surat al Ikhlas bisa memasukkan ke dalam surga, surat Al Ikhlas sebanding dengan sepertiga al Qur'an, dan yang lainnya. Terdapat hadits-hadits yang shohih sehingga bisa kita amalkan. Disebutkan juga hadits yang dhoif -sebagai peringatan- sehingga kita mengetahuinya dan untuk kita tinggalkan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.PEMBAGIAN TAFSIR
Tafsir dapat dibagi menjadi tiga jenis:
1. Tafsir riwayat
Tafsir riwayat sering juga disebut dengan istilah tafsir naql atau tafsir ma'tsur. Cara penafsiran jenis ini bisa dengan menafsirkan ayat al-Quran dengan ayat al-Quran lain yang sesuai, maupun menafsirkan ayat-ayat al-Quran dengan nash dari as-Sunnah. Karena salah satu fungsi as-Sunnah adalah menafsirkan al-Quran.
2. Tafsir dirayah
Tafsir dirayah disebut juga tafsir bi ra'yi. Tafsir dirayah adalah dengan cara ijtihad yang didasarkan pada dalil-dalil yang shahih, kaidah yang murni dan tepat.Tafsir dirayah bukanlah menafsirkan al-Quran berdasarkan kata hati atau kehendak semata, karena hal itu dilarang berdasarkan sabda Nabi:
"Siapa saja yang berdusta atas namaku secara sengaja niscaya ia harus bersedia menempatkan dirinya di neraka. Dan siapa saja yang menafsirkn al-Quran dengan ra'yunya maka hedaknya ia bersedia menempatkan diri di neraka." (HR. Turmudzi dari Ibnu Abbas)
"Siapa yang menafsirkan al-Quran dengan ra'yunya kebetulan tepat, niscaya ia telah melakukan kesalahan" (HR. Abi Dawud dari Jundab).
Ra'yu yang dimaksudkan oleh dua hadits di atas adalah hawa nafsu.
Hadits-hadits di atas melarang seseorang menafsirkan al-Quran tanpa ilmu atau sekehendak hatinya tanpa mengetahui dasar-dasar bahasa dan syariat sperti nahwu, sharaf, balaghah, ushul fikih, dan lain sebagainya.
Dengan demikian, tafsir dirayah ialah tafsir yang sesuai dengan tujuan syara', jauh dari kejahilan dan kesesatan, sejalan dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta berpegang pada uslub-uslubnya dalam memahami teks al-Quran.
3.Mufassir
Seorang mufassir adalah seorang yang mengartikan seuah ayat dalam arti yang lain/arti yang mirip.
B.TAFSIR SURAT AL-IKHLAS
Kalau kita baca arti masing-masing ayat dalam Surah Al Ikhlas ini, maka tidak jauh dari istilah "Tauhid" atau "Mengesakan Alloh" sekaligus pelajaran bagi para orang-orang yang syirik (mereka yang mempersekutukan Alloh).Sekarang kita lihat masing-masing ayat dari surat al-ikhlas yang tersebut di bawah ini:
Ayat 1: "Katakanlah: "Dialah Alloh, Yang Maha Esa."
Ayat ini sudah mengikat sebuah pernyataan akan keesaan Alloh, yakni bahwa Alloh itu Maha Esa dengan segala kesempurnaan, yang memiliki Al Asma Al Husna serta segala sifat kiesempurnaan Yang Maha Tinggi, berbagai perbuatan yang suci yang tiada bandingannya. Ini ada hubungannya dengan Sifat-Sifat Asma al Husna berikut:
Al Wahid (Satu) dan Al Ahad (Tunggal), artinya sebagaimana Firman Alloh: "Katakanlah: "Alloh adalah pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Robb Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa" (QS.Ar Ro'd: 16) yaitu, Dia-lah (Alloh) yang diesakan dengan segala sifat kesempurnaan, tak ada yang menyamai-Nya dalam kesempurnaan ini. Seorang hamba haru mengesakan-Nya dengan keyakinan, perkataan dan perbuatan dengan meyakini kesempurnaan-Nya yang mutlak dan keesaan-Nya dengan sifat wahdaniyyah serta mengesakan-Nya dalam segala macam ibadah.
Ayat 2 : "Alloh adalah Illah yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu"
Dan dari sebagian bukti keesaan dan kesendirian-Nya (segala sifat kesempurnaan-Nya), bahwasannya Dia bersifat Ash-Shomad (tempat bergantungnya segala urusan). Yang menjadi tujuan dan kebutuhan seluruh hamba kepada Alloh ialah mereka selalu memohon kepada Alloh untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka selalu berhasrat kepada-Nya dalam segala kepentingan mereka. Karena Alloh itu Maha Sempurna. Yang Maha mengetahui dan sempurna dalam ilmu-Nya, Yang Maha Lembut dan sempurna dalam kelembutan-Nya, Yang Maha Pengasih, yang sempurna cinta kasih-Nya. kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu, demikian juga segala sifat yang dimiliki-Nya. Diantara sifat-Nya yang sempurna adalah bahwa Dia:
Ayat 3 : "Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan"
Yakni karena Alloh tidak membutuhkan segala sesuatu secara mutlak,
Ayat 4 : "dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia"
Dalam nama, dalam sifat-Nya dan dalam perbuatan-Nya.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dan orang yang hanya membaca surat Al-Ikhlash tidaklah akan mencapai apa yang dicapai dengan membaca seluruh Al-Qur’an yang berupa pahala, tambahnya iman, mengetahui hukum halal dan haram, hal yang wajib, sunnah dan makruh, beradab dan berakhlak dengan akhlak yang dikandung oleh Al-Qur’an, dan cukuplah dengan tidak terpenuhinya hal-hal di atas menjadi pencegah bagi seorang hamba dari dari M Meninggalkan membaca Al-Qur’an, dan Rasululloh walaupun dia mengetahui keutamaan surat Al-Ikhlash dan pemberitahuannya (kepada umatnya) bahwa surat tersebut sama dengan sepertiga Al-Qur’an, serta keinginannya mendapatkan pahala yang besar, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya membaca surat tersebut, bahkan dia selalu membaca seluruh kitab Alloh dan Alloh Ta a’la telah berfirman, yang artinya:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh” (QS. 33:21)
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Khallaf, abdul Wahab, ilmu Ushulil Fiqh, 1978,Pustaka Firdaus, Jakarta.
Ibnu Taymiyah, Majmu Fatawati Riyad, 1991, Pustaka Darul Haq, Jakarta.